AC Milan terakhir kali meraih Scudetto pada musim 2003/2004. Inter Milan, rekan sekotanya, mendominasi empat musim terakhir. Namun jika sejenak membandingkan AC Milan musim 2003/2004 dengan Nerazzurri yang baru saja meraih Scudetto keempat berturutan, siapa yang lebih unggul?
Bukan sesuatu yang mudah. Situasi Serie A empat enam tahun lalu dengan saat ini relatif berbeda. Pada musim 2003/2004, peserta kompetisi Serie A adalah 18 tim. Sejak musim 2004/2005, anggota Serie A menjadi 20 tim.
Milan pada musim 2003/2004 memainkan 34 pertandingan. Sedangkan Inter Milan menjalani 34 pertandingan.
Ketika terakhir kali meraih Scudetto, Milan mengakhiri musim dengan koleksi 82 angka; memenangkan 25 pertandingan, tujuh kali ditahan imbang, dan dua kali kalah. I Rossoneri dikalahkan Udinese 2-1 di San Siro, dan pulang dari kandang Reggina dengan kekalahan 2-1.
Mereka memproduksi 65 gol, dengan 24 di antaranya dibuat Andriy Shevchenko, atau rata-rata 1,8 gol per pertandingan. Milan kebobolan 24 sepanjang musim itu, atau rata-rata 0,7 gol per pertandingan.
Saat itu Inter Milan berada di peringkat keempat, dengan selisih 23 angka. Bahkan Milan nyaris mendominasi, karena AS Roma mengakhiri musim di peringkat kedua dengan selisih sebelas angka.
Inter memenangkan empat seri terakhir dengan memainkan 38 pertandingan. Pada musim 2005/2006, Inter susah payah mengatasi perlawanan AS Roma sampai laga terakhir. Namun musim berikutnya, 2006/2007, Nerazzurri mendominasi satu kekalahan sepanjang musim dan koleksi 97 angka.
Musim 2007/2008, Inter kembali harus bersaing dengan AS Roma sampai laga terakhir. Produktivitas gol Nerazzurri saat itu juga menurun, dan mengakhiri musim dengan tiga angka di atas Roma.
Di bawah Jose Mourinho, Inter kembali mendominasi Serie A musim 2008/2009. Inter menutup musim dengan keunggulan sepuluh angka Juventus dan Milan.
Sepanjang musim 2008/2009, Inter mengemas 25 kemenangan, sembilan seri, dan empat kali kalah, mencetak 70 gol atau rata-rata 1,8 gol per pertandingan, dan Kebobolan 32, atau rata-rata 0,8 gol per pertandingan.
Data statistik di atas memperlihatkan skuad Milan musim 2003/2004 sedikit lebih unggul dibanding pasukan Jose Mourinho yang baru saja memenangkan gelar. Kini bayangkan jika skuad Milan enam tahun lalu bertemu Nerazzurri saat ini.
Tapi sebelumnya kita harus lebih dulu melihat sumber daya Milan saat itu, dan membandingkannya dengan skuad Inter saat ini.
I Rossoneri musim 2003/2004 diperkuat pemain yang sedang dalam form terbaiknya. Ricardo Kaka yang baru berusia 22 tahun sedang memoles dirinya sebagai playmaker. Andri Shevchenko memasuki kemarangannya, demikian pula dengan Filippo Inzaghi, Clarence Seedorf.
Meski dua kali kalah, mereka tampil konsisten sepanjang musim dengan tidak pernah kebobolan lebih dari dua gol.
Dibanding dua musim sebelumnya, Inter memperlihatkan kecederungan terus menurun. Jika pada musim 2006/2007 mereka hanya kalah sekali, mencetak 80 gol, dan mengakhiri musim dengan 97 angka, musim berikutnya mengalami tiga kekalahan dan mengakhiri musim dengan 85 angka. Musim 2008/2009, Inter mengemas 84 angka, dan menelan empat kekalahan.
Inter sempat kehilangan konsistensinya ketika dikalahkan Atalanta 3-1. Sepanjang musim, Inter relatif bertumpu pada satu orang; Zlatan Ibrahimovic. Mario Balotelli baru diberi kepercayaan di paruh kedua. Sedangkan Hernan Crespo lebih banyak duduk di bangku cadangan, dan Julio Cruz cedera.
Di atas kertas, skuad Milan musim 2003/2004 sedikit lebih baik dibanding Inter saat ini. Namun jika keduanya bertemu saat ini, Milan akan menang dengan susah payah.